Friday, February 5, 2016

Kota Hama, Februari 1982 : Pembantaian Puluhan Ribu Aswaja Suriah oleh Teroris Barbar Syi’ah Laknatullah Hafidz al-Assad ( Sejenis Anaknya, Bashar al-Assad)


February 4, 2016
Naiknya Hafidz al-Assad (bapak dari diktator Bashar al-Assad) menjadi president Suriah membuat masalah baru bagi rakyat Suriah.
Jika era sosialis dan UAR (United Arab Republic), kekuasaan hanya dimonopoli kaum Ba’ats, maka naiknya Hafidz justru menjadikan Ba’ats yang dimonopoli oleh keluarga Assad dan suku Alawite/Nushairy.

Seluruh sektor vital negara dipegang klan Assad atau dari sukunya itu. Contohnya adalah Rifaat al-Assad (saudara Hafidz) ditunjuk menjadi penguasa BUMN Suriah, menantu Hafidz ditunjuk menjadi kepala unit militer penjaga revolusi dan lain-lain.

Hafiz al-Assad (kanan) dan Rifaat al-Assad (kiri), Klan kafir Nushayriyah yang bertanggung jawab atas pembantaian puluhan ribu muslimin kota Hama pada Hama Massacre bulan Februari tahun 1982
Hafiz al-Assad (kanan) dan Rifaat al-Assad (kiri), Klan kafir Nushayriyah yang bertanggung jawab atas pembantaian puluhan ribu muslimin kota Hama pada Hama Massacre bulan Februari tahun 1982

Kebijakan rezim Assad ini membuat gap sosial dan politik antara mayoritas Ahlussunnah (Muslim) dan minoritas Alawite. Menyebabkan Ahlussunnah terpinggirkan secara ekonomi maupun politik.
Pembangunan antara daerah Nushairy dengan daerah Ahlussunnah pun berbeda hasilnya.
Saat itu, kaum mayoritas hanya menjadi orang biasa atau miskin, kebanyakan hidup di perkampungan/pinggiran kota. Sedangkan Alawite dan pro rezim (Ba’ats) mudah menjadi orang kaya atau berpengaruh.
Ahlussunnah sebagai mayoritas sulit mendapatkan akses pada kekuasaan/jabatan, sedangkan Alawite sangat lancar dalam memperoleh kedudukan.
Dominasi sektor penting negara untuk kaum Alawite dan melakukan memberi tekanan kuat terhadap mayoritas menggunakan hukum darurat (militer) merupakan metode pemerintahan rezim diktator Assad.
Beberapa tahun setelah Hafidz al-Assad berkuasa, kaum Muslimin (Ahlusunnah/Sunni/Aswaja) yang merupakan mayoritas Suriah terus tenggelam dalam kemiskinan serta sistem otoriter.
Saat itu kaum Aswaja mulai beralih pada pendekatan gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang berkembang di daerah pinggiran, karena wilayah perkotaan dikontrol oleh rezim. Pemerintah menggalakkan ajaran-ajaran yang meninggalkan politik (duniawi), seperti Sufisme akut dan paham murji’ah.
IM merupakan gerakan politik Islamiyin yang anti dengan bentuk Komunisme, Liberalisme, Ba’ats/sosialis dan segala variannya. Lebih-lebih Assad merupakan penganut agama Nushairiyah (kafir menurut Islam).
IM di Suriah berhasil terharmonisasi dengan kaum Ahlussunnah yang terpinggirkan ini. Corak IM sebagai suatu gerakan Islam Ahlussunnah wal Jamaah selalu mengakomodir kelompok apa saja, termasuk kaum Syafi’iyah dan Sufi yang mendominasi penduduk Suriah.
Apalagi meski orang-orang itu aslinya bukan IM, tetapi mereka sangat anti dengan Assad dan anti Ba’ats. Sehingga selama bertahun-tahun gerakan oposisi yang dimotori IM berkembang. Kota Hama adalah basis terkuat oposisi untuk melawan pemerintah diktator rezim al-Assad.
Hingga terjadilah peristiwa pembantaian Hama (Hama massacre) pada tahun 1982, dimana puluhan ribu rakyat Suriah (Aswaja) dibunuh oleh serbuan militer Assad hanya dalam waktu beberapa minggu. Dari tanggal 3 Februari hingga 28 Februari 1982.
Pemerintah Assad berdalih untuk membersihkan pemberontakan IM dan menumpas serangan gerilyawan yang “meneror” negara sejak tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 1981, ratusan oposisi IM telah dieksekusi Assad di Hama.

2 Pembunuh utama rakyat sipil Suriah, semoga pembalasan yang seperih-perihnya untuk mereka di akhirat kelak
2 Penjagal utama rakyat sipil Suriah, semoga pembalasan yang seperih-perihnya untuk mereka di akhirat kelak

Menurut majalah Al-Tallia, yang diterbitkan di Paris, alasan serbuan massal militer Assad ke Hama terjadi karena sekitar 200 orang militan bersenjata muncul di malam 2 Februari 1982 dan menduduki kota.
Mereka dilaporkan memburu dan mengeksekusi sekitar 90 orang pro rezim atau pengikut Ba’ats, serta menduduki kantor-kantor penting di kota itu untuk menyatakan pembangkangan.
Hal inilah yang menjadi alasan dilakukannya operasi militer besar. Pemerintah menerjunkan unit pasukan khusus di bawah Rifaat al-Assad, mengepung kota, serbuan Tank ke rumah-rumah, penggunaan gas beracun dan bombardir udara, sehingga membunuh puluhan ribu orang.
Eksekusi massal di jalan-jalan, termasuk penembakan wanita dan anak-anak. Penyisiran ke rumah-rumah dengan alasan mencari para pemberontak dan simpatisannya, toko-toko dijarah, serta tempat ibadah (masjid, bahkan gereja) ikut dihancurkan. Sepertiga Hama hancur oleh serangan militer hanya untuk memburu “ratusan pria bersenjata”.
Pembantaian Hama terjadi secara terpisah-pisah. Salah satu yang terkenal adalah pembantaian Sihrin. Ratusan orang dibawa oleh belasan truk ke daerah Sihrin untuk dihabisi secara massal dan dikubur bersama.
Selain Sihrin, berikut beberapa pembantaian yang tercatat menurut data SHRC:
4 Februari: Pembantaian al-Jadida, di selatan stadion kota (1500 korban)
6 Februari: Serangkaian pembantaian di kompleks Souq al-Shajara (50 korban), di toko Ahmad el-Musaqee al-Halabeye ini (75 korban) dan kawasan al-Bayad pembantaian (50 korban).
8 Februari: serangkaian pembantaian di neighberghood Dabagha yang memecah sebagai berikut: Souq al-Taweel (8 korban), toko Abdul-Razzaq el-Rayes ‘(35 korban), toko Abdul-Mueen muftah ini (20 korban), 6 korban dari keluarga Dabboor, 4 korban dari keluarga Meghaizil, dan 3 dari keluarga al-Qurn.
8 Februari: serangkaian pembantaian di kompleks al-Bashura, yang korbannya: 11 anggota keluarga al-Dabbagh, 5 dari keluarga Sayeda-Ameen, 21 dari keluarga Mousa, 3 dari keluarga al-Qeyasseh, 2 dari keluarga al-Azem, 39 warga apartemen, 13 dari keluarga al-Samsam, 4 dari keluarga Keelani. Serta pembantaian masjid Khankan dengan jumlah korban sangat banyak, dimana sebagian besar tak diidentifikasi.
Klan al-Assad, Bapak dengan anak sama-sama pembantai rakyat Suriah
Klan al-Assad, Bapak dengan anak sama-sama pembantai rakyat Suriah

12 Februari: Pembantaian keluarga Masri di kompleks Osaida (40 korban)
13 Februari: Pembantaian keluarga Sahen di kompleks Dabbagha (60 korban)
15 Februari: Pembantaian jalan al-Zukkar di kompleks Shimaleye (6 korban)
23 Februari: Pembantaian keluarga Shaikh Utsman di kompleks Baroudeye (25 korban)
26 Februari: Pembantaian Masjid al-Jadeed di kompleks Jehee el-frayee (16 korban)
Peristiwa pembantaian Hama dicatat sejarah sebagai pembantaian terbesar sebuah rezim Arab pada rakyatnya dalam satu serbuan, bahkan dikabarkan setiap rumah di kota Hama pasti kehilangan anggota keluarganya akibat dibunuh rezim.
Tidak ada yang tahu jumlah pasti korban Assad, angka moderat korban pembantaian Hama diperkirakan mencapai 30 ribu orang. Sementara belasan ribu lainnya hilang.
Orang-orang sipil hanya bisa seadanya melawan serbuan mematikan tentara Assad dan Ba’ats. Yang melawan atau lari, semuanya mati.
SHRC, Risalah – Editing oleh admin Middle EAST Update

Ikhwanul Muslimin "Ditipu" Syiah