Monday, February 22, 2016

Masih Ada Yang Bilang Syiah Tidak Sesat, Ngaji Dimana? Hindari Penyebutan Islam Sunni Dan Islam Syiah. Jangan Duduk-Duduk Dengan Syiah,Syiah Indonesia Menganggap Abu Bakar, Umar, Dan Utsman Bukan Pemimpin Yang Sah !

Hasil gambar untuk syiah sesat

Umar Shahab: Syiah Indonesia Menganggap Abu Bakar, Umar, dan Utsman Bukan Pemimpin yang Sah

Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas mengatakan bahwa banyak sekali di media sosial, khususnya Youtube yang memuat konten penghinaan kelompok Syiah kepada para Sahabat Rasulullah.
“Dan di Youtube banyak sekali. ketika kita tulis Syiah. Maka di sana banyak sekali yang menghina para sahabat,” kata Yunahar saat menjadi pembicara pada diskusi “Syiah, Sekterian, dan Geopolitik” yang diselenggarakan Ma’arif Institute di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta baru-baru ini.

Menurut Yunahar Syiah dibagi menjadi tiga, Syiah Zaidiyah, Imamiyah dan Ghulat. Syiah Imamiyah dan Ghulat, jelas Yunahar, adalah Syiah yang memiliki keyakinan tidak menerima khalifah Islam dan para sahabat dan bahkan sampai melaknat mereka.
Pernyataan Yusnahar ini dibantah oleh pembicara lain dari tokoh Syiah Indonesia Umar Shahab.
Umar mengatakan Syiah yang ada sekarang tidak memiliki keyakinan seperti yang disebutkan oleh Yunahar.
“Syiah sekarang berbeda, tidak ngurusi hal hal seperti itu. Kita tidak mengangkat masalah itu lagi. Kita tidak melaknat para para khalifah Islam, yang  seperti itu adalah Syiah takfiri,” urai Umar yang juga Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI).
Namun, pada sesi lain Umar menyampaikan hal yang berbeda dengan sebelumnya. Dia menyebutkan bahwa walaupun dia bukan Syiah takfiri, namun ada keyakinan bahwa Syiah di Indonesia masih menganggap bahwa Abu Bakar Asshidiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan bukan pemimpin yang sah.
“Syiah di Indonesia memang menganggap Abu Bakar, Umar, dan Utsman bukan pemimpin yang sah. Tapi tidak seperti takfiri. Tapi dari keyakinan itupun ada konsekuensinya,” jelas Umar Shahab.* [Sendia/Syaf/voa-islam.com]


AHAD, 12 JUMADIL ULA 1437H / FEBRUARY 21, 2016
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bekasi, Ustadz Ahmad Salimin Dani MA mendukung adanya deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Bekasi Raya.
Hal itu disampaikan Ustadz Salimin Dani, menyikapi maraknya geliat Syiah di Bekasi.
“Berdirinya ANNAS saya harapkan ini betul-betul menjadi benteng bagi Umat Islam dari kesesatan Syiah,” kata Ustadz Salimin Dani di hadapan jamaah yang hadir dalam Deklarasi ANNAS Bekasi Raya, di Masjid Nurul Islam, Islamic Center, pada Ahad (21/2/2016).
Di samping itu, Ustadz Salimin Dani menyampaikan agar kaum Muslimin mengetahui tentang kesesatan Syiah.
“Kalau masih ada orang yang mengatakan Syiah tidak sesat, saya bingung! Kajian darimana, ulama siapa yang bilang?” tanyanya.
Ustadz Salimin Dani menjelaskan, para ulama sudah menyatakan Syiah itu sesat, bahkan keluar dari Islam, lantaran ajaran Syiah menyatakan Al-Qur’an itu kurang dan melaknat para sahabat.
“Pendapat Al-Imam Sufyan Ats Tsauri ketika ditanya tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, yakni orang-orang Syiah yang melakukan hal itu, ia berkata; mereka telah kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian ditanya, apakah kita boleh menyalatkan orang Syiah yang mati? Maka Al-Imam Sufyan Ats Tsauri mengatakan, haram hukumnya menyalatkan mereka!” ungkapnya.
Ia menambahkan, ulama hadits seperti Imam Bukhari pun sangat tegas dalam menyikapi Syiah.
Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syiah) atau di belakang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya. [AW]

Hindari penyebutan Islam Sunni dan Islam Syiah

Heriansyah, S. Ag, salah seorang orator pada Deklarasi & Pengukuhan Pengurus Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Wilayah Provinsi Sumatra Utara, di Masjid Al Jihad Jl. Abdullah Lubis, Medan, Ahad (14/2/2016) mengatakan, hendaknya umat Islam secara tegas menghindari penyebutan Islam Sunni dan Islam Syiah. Karena penyebutan tersebut seolah-olah Syiah merupakan bagian dari Islam, demikian dilaporkan Abu Muas.
Padahal Islam saat ini sedang diserang oleh orang-orang yang mengaku Islam, bahkan mereka mengaku sebagai Ahlubait, Syiah. Kondisi ini disebutkannya sedang terjadi perang antara Syiah dengan Islam.
Menurutnya Islam dan Syiah tidak mungkin bisa berdampingan, karena apa yang telah kita muliakan mereka malah menghinakan. Sebaliknya, yang kita hinakan malah mereka muliakan. Heriansyah mencontohkan, zina yang dalam keyakinan ummat Islam adalah perbuatan terkutuk, tapi di kalangan Syiah dianggap sebagai ritual utama dibingkai dengan label Nikah Mut’ah.
Ditegaskan Heriansyah, kehadiran Syiah menjadi ancaman bagi ummat Islam karena “dua kebencian.” Pertama, kebencian Yahudi karena Syiah itu lahir dibidani oleh seorang tokoh Yahudi, Abdullah bin Saba. Kedua, dendam sejarah, di mana hancurnya hegemoni Persia (Iran) saat itu berhasilnya dihancurkan oleh kekuatan Islam dan sosok utama penghancurnya adalah Umar bin Khathtab, sehingga kebencian Syiah terhadap Umar bin Khaththab hingga hari ini. (azmuttaqin/*/arrahmah.com)

Sekretaris Komisi Dakwah MUI: Jangan Duduk-duduk dengan Syiah

Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim MA menyatakan, salah bila gerakan anti Syiah adalah sebuah gerakan kebencian.
Hal ini disampaikan Ustadz Fahmi Salim menanggapi berbagai isu dan tudingan yang saat ini mengarah pada gerakan anti Syiah.‎
“Sangat salah besar jika ada yang mengatakan gerakan anti syiah adalah ajaran kebencian, sebaliknya gerakan ini tegak dan kokoh pada kecintaan,” kata Ustadz Fahmi Salim di hadapan jamaah yang hadir dalam deklarasi ANNAS Bekasi Raya di Masjid Nurul Islam, Islamic Center Bekasi, Ahad (21/2/2016).‎
Sebagai ummat yang mencintai Allah dan RasulNya, manakala ayat Allah diolok-olok termasuk mereka yang mengingkari kebenaran ayat Allah terhadap para sahabat, hal inilah yang harus ditentang.‎‎
“Kita tidak memiliki kebencian apa pun kecuali apa yang dibenci Allah dan RasulNya,” tandasnya.

Selain itu, menurut Ustadz Fahmi Salim tak perlu lagi diskusi dengan Syiah yang kerap mengolok-olok ayat Al-Qur’an dan melecehkan para sahabat.
Ia pun mengutip firman Allah Ta’ala,
وَ قَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى اْلكِتبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ ايتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَ يُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوْا فِى حَدِيْثٍ غيْرِهِ ‎
bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah ditentang dan diejeknya. Maka itu janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka itu memasuki dalam pembicaraanan yang lain. (Q.S. An Nisa: 140).‎
Ia menjelaskan, bahwa mendengarkan kebatilan-kebatilan yang disampaikan aliran sesat Syiah, bisa menjadi sebuah dosa.‎
“Kita mendengarkan kebatilan yang duduk di samping kita, itu sudah suatu dosa,” tandasnya. [AW]‎


Tokoh Syiah Ini Klaim Jumlah Penganut Syiah di Indonesia 
Jutaan Orang

Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Umar Shahab mengklaim jumlah penganut Syiah di Indonesia sudah jutaan orang.
Hal ini ia katakan saat menjadi pembicara pada diskusi “Syiah, Sektarian, dan Geopolitik” yang diselenggarakan Maarif Institute di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta baru-baru ini.
“Penganut Syiah sudah banyak, saya tidak tahu jumlah keseluruhannya. Tapi yang ABI perkirakan dari komunitas dan jaringan ABI jumlahnya satu juta sampai dua juta,” kata Umar.
Dia melanjutkan , ”Di Indonesia, sudah menyebar sampai ke seluruh Indonesia. Tidak ada kota besar yang tidak ada Syiah nya. Sampai ke Papua ada Syiah nya.”
Menurut Umar, penyebaran paham Syiah di Indonesia dilakukan melalui buku-buku yang disebar di masyarakat. Selain itu propaganda anti Syiah dinilai Umar juga menguntungkan pihak Syiah.
“Penyebaran Syiah di Indonesia karena buku-buku, pertama kali buku yang berbicara tentang Syiah adalah berjudul Dialog Sunni-Syiah terbitan Mizan. Propaganda anti Syiah tidak hanya menjadi penghambat tapi menjadi peluang juga masyarakat masuk ke Syiah. Banyak juga para tokoh yang masuk ke dalam Syiah propagandandan mencari tahu tentang syiah,” ujar Umar.
Dari 14 titik acara Asyuro, ada delapan titik yang berhasil digagalkan oleh umat Islam. Dari delapan titik itu tidak banyak yang hadir. Enam sisanya kami perkirakan juga demikian. Ini bukti jumlah mereka sedikit. Kami perkirakan tidak lebih dari sepuluh ribu orang.”
Soal klaim angka penganut Syiah di Indonesia yang berjumlah jutaan orang ini langsung dibantah Ustadz Ahmad Farid Okbah, pengamat gerakan Syiah.
Ustadz Farid memaparkan bahwa jumlah penganut Syiah diperkirakan tidak lebih dari sepuluh ribu orang.
Ini dibuktikan ketika ia bersama tim Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) memantau perayaan Asyura belum lama ini di beberapa kota.
“Dari 14 titik acara Asyura, ada delapan titik yang berhasil digagalkan oleh umat Islam. Dari delapan titik itu tidak banyak yang hadir. Enam sisanya kami perkirakan juga demikian. Ini bukti jumlah mereka sedikit. Kami perkirakan tidak lebih dari sepuluh ribu orang,” ungkap Ustadz Farid, Ahad (21/2/2016) di Bekasi, Jawa Barat.* [Sendia/Syaf/voa-islam.com]